Jakarta, Aktual.news – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan mahasiswa Indonesia terus meningkat dan kini menjadi bagian dari aktivitas pembelajaran sehari-hari.
Berdasarkan Global Student Survey 2025 yang dirilis oleh Chegg, sebanyak 95 persen mahasiswa Indonesia telah mengintegrasikan AI generatif dalam proses belajar mereka.
Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi tertinggi dari 15 negara yang menjadi objek survei. Tingginya tingkat adopsi AI di lingkungan pendidikan tinggi membawa sejumlah konsekuensi baru.
Jika sebelumnya perhatian lebih banyak tertuju pada akses dan pemanfaatan teknologi, kini muncul kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap kemampuan berpikir mandiri mahasiswa.
Sejumlah orang tua mulai mempertanyakan sejauh mana penggunaan AI memengaruhi kemampuan analisis, eksplorasi, dan penyelesaian masalah yang selama ini menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.
Perubahan tersebut turut memengaruhi cara pandang masyarakat dalam memilih perguruan tinggi.
Tidak sedikit orang tua yang kini mempertimbangkan bagaimana sebuah kampus mengelola penggunaan AI, bukan sekadar menyediakan fasilitas teknologi.
Mereka menilai pentingnya pendekatan pendidikan yang mampu menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan penguatan kemampuan berpikir kritis, adaptasi, dan penalaran mahasiswa.
Menjawab tantangan tersebut, BINUS University menghadirkan Digital Transformation & AI Experience Ecosystem.
Melalui pendekatan ini, AI tidak hanya digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan yang mendorong mahasiswa memahami penggunaan teknologi secara tepat dan bertanggung jawab.
Rektor BINUS University, Nelly, mengatakan perkembangan AI mendorong perguruan tinggi untuk mempersiapkan mahasiswa secara lebih menyeluruh.
“Memahami perkembangan AI saat ini, BINUS University berkomitmen mendampingi mahasiswa agar mampu memanfaatkan AI secara produktif tanpa kehilangan kemampuan berpikir, kreativitas, dan daya analitis mereka. Komitmen ini juga sudah kami wujudkan nyata dalam kurikulum, ekosistem digital, hingga pengalaman belajar sehari-hari,” jelas Nelly, di Jakarta, Rabu (3/6/2026).
Kekhawatiran orang tua terhadap penggunaan AI juga tercermin dalam berbagai hasil survei internasional.
Survei EdChoice 2025 menunjukkan 65 persen orang tua setuju bahwa kampus perlu secara aktif mengajarkan cara menggunakan AI secara bijak.
Persentase tersebut bahkan meningkat menjadi 79 persen pada kelompok orang tua yang menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi swasta.
Temuan serupa muncul dalam survei Echelon Insights yang melibatkan 1.511 orang tua. Sebanyak 56 persen responden meyakini anak mereka aktif menggunakan AI dalam kegiatan belajar.
Namun, mereka juga menilai perlu adanya pengawasan dan batasan yang jelas untuk menjaga kemampuan analisis serta problem solving mahasiswa.
Selain itu, 79 persen orang tua menyatakan ingin dilibatkan dalam penyusunan kebijakan terkait penggunaan AI di institusi pendidikan. Kekhawatiran tersebut muncul karena penggunaan AI yang semakin luas berpotensi membuat mahasiswa terbiasa memperoleh jawaban secara instan.
Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengurangi proses pencarian informasi, analisis mendalam, hingga kemampuan menyelesaikan persoalan secara mandiri apabila tidak diimbangi dengan pendekatan pendidikan yang tepat.
Di sisi lain, kebutuhan dunia kerja terus berubah seiring perkembangan teknologi. Future of Jobs Report 2025 memproyeksikan sekitar 39 persen keterampilan inti pekerja akan mengalami perubahan pada 2030.
Kemampuan seperti problem solving, kreativitas, kolaborasi, dan adaptabilitas diperkirakan menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan oleh industri.
Melalui ekosistem yang dikembangkan, BINUS University membiasakan mahasiswa tidak hanya menerima hasil yang diberikan AI, tetapi juga melakukan evaluasi, validasi, serta memahami keterbatasan teknologi tersebut.
Pendekatan ini diterapkan melalui berbagai aktivitas pembelajaran mulai dari riset, brainstorming, collaborative learning, hingga penerapan AI dalam konteks akademik maupun industri. Pengembangan tersebut didukung oleh berbagai platform digital yang menjadi bagian dari ekosistem kampus.
BINUSMAYA berfungsi sebagai Learning Management System yang menghubungkan mahasiswa, dosen, dan layanan kampus dalam satu platform. Sementara CrowdBees menjadi wadah crowdsourcing inovasi terbuka yang memungkinkan mahasiswa, dosen, staf, dan alumni berbagi ide serta mengembangkan proyek inovatif.
Adapun Neksus dirancang sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan karier yang membantu mahasiswa menghubungkan perjalanan akademik dengan tujuan masa depan mereka.
Selain itu, ekosistem digital BINUS University juga mencakup berbagai inovasi lain seperti BINUS Support, Semesta Aplikasi Binusmaya, Beelingua, Binusian Profile, Beemine, Management Report, Lumobees, Generative AI in DPI, serta AI Liveness Detection & Face Comparison.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, pendekatan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada penguasaan AI, tetapi juga pada pembentukan kemampuan berpikir dan adaptasi, dinilai semakin relevan.
Bagi banyak orang tua, kualitas perguruan tinggi kini tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kemampuannya mempersiapkan mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis dan berbasis teknologi.
Laporan: Achmat
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi












