Pengunjung melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (29/12/2022). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/tom.

Jakarta, Aktual.news – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi hampir 33 persen sejak puncak Januari 2026 dan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS mencerminkan tekanan serius terhadap pasar keuangan Indonesia. FINE Institute menilai gejolak ini bukan sekadar koreksi harga aset, melainkan uji kredibilitas terhadap ketahanan sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian global.

Co-Founder FINE Institute, Kusfiardi menyatakan persepsi risiko investor terhadap Indonesia meningkat signifikan. “Yang mengalami koreksi bukan hanya harga saham dan nilai tukar, tetapi juga persepsi investor terhadap risiko pasar Indonesia secara keseluruhan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (1/6/2026).

Analisis FINE Institute mengidentifikasi empat temuan kunci periode Januari–Mei 2026. Pertama, tekanan pasar tidak semata dipicu faktor eksternal seperti konflik geopolitik atau penguatan dolar AS. Kedalaman koreksi mengindikasikan persoalan domestik mendasar, yakni struktur pasar yang dangkal dan ketergantungan tinggi pada arus modal asing.

Kedua, kasus rebalancing MSCI Mei 2026 memperlihatkan besarnya pengaruh institusi keuangan global. Keluarnya saham-saham besar Indonesia dari indeks MSCI memicu arus keluar dana asing masif, yang mempercepat tekanan pada pasar saham dan nilai tukar secara simultan.

Ketiga, tekanan pada pasar saham jauh lebih dalam dibandingkan nilai tukar. Rupiah melemah sekitar 10 persen year-to-date, sementara IHSG tergerus hampir 30 persen. Disparitas ini menunjukkan investor melakukan repricing terhadap risiko Indonesia secara holistik, bukan sekadar mengurangi eksposur rupiah.

Keempat, investor domestik mulai berperan sebagai penyangga, namun kapasitasnya masih terbatas. Meski mampu menyerap sebagian tekanan jual asing pada akhir Mei 2026, skala dana institusional nasional belum cukup menjadi penyeimbang utama saat terjadi gejolak arus modal global.

Kusfiardi menekankan pasar saat ini menguji kredibilitas kebijakan dan kapasitas negara menjaga stabilitas sistem keuangan. “Selama kepercayaan itu belum pulih, volatilitas masih akan tetap tinggi,” tegasnya. Ketidakpastian kebijakan, isu tata kelola, dan keterbatasan likuiditas domestik membuat Indonesia lebih rentan terhadap perubahan sentimen global dibanding negara berkembang sejawat.

FINE Institute juga menyarankan kehati-hatian terhadap proyeksi optimistis penguatan rupiah ke level Rp15.000 per dolar AS. Secara teoritis hal tersebut memungkinkan jika diikuti pembalikan arus modal asing dan membaiknya sentimen global. Namun, dengan IHSG masih terkoreksi dalam dan arus keluar modal yang berlanjut, pasar belum melihat faktor fundamental yang cukup kuat mendukung penguatan agresif tersebut.

“Pasar bekerja berdasarkan kepercayaan. Selama arus modal asing masih keluar dan risiko kebijakan masih tinggi, ekspektasi penguatan rupiah yang terlalu agresif berpotensi menciptakan jarak antara narasi kebijakan dan realitas pasar,” kata Kusfiardi.

Ke depan, FINE Institute memperkirakan volatilitas pasar akan tetap tinggi dalam jangka pendek. Arah pergerakan akan sangat ditentukan oleh respons kebijakan domestik dan kemampuan otoritas memulihkan kepercayaan investor.

Pelajaran terbesar dari gejolak ini adalah perlunya reformasi struktural. Agenda mendesak meliputi pendalaman pasar keuangan, penguatan investor institusional domestik, peningkatan free float, serta perbaikan tata kelola pasar. Tanpa reformasi tersebut, setiap perubahan sentimen global akan terus menghasilkan volatilitas besar di pasar keuangan Indonesia.

 

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi