Gambar ilustrasi ranjau laut Iran yang siap disebar di Selat Hormuz jika Israel atau AS kembali menyerang Iran - foto X

Jakarta, Aktual.newsIran berencana membatasi jumlah kapal yang melintas di Selat Hormuz menjadi sekitar 12 kapal per hari, di tengah belum tercapainya kesepakatan dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.

Laporan The Wall Street Journal menyebutkan, biaya melintasi jalur strategis tersebut dapat mencapai hingga 2 juta dolar AS atau sekitar Rp34,2 miliar per kapal tanker raksasa. Para pemilik kapal dari berbagai negara dilaporkan tengah bernegosiasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran untuk memperoleh izin melintas.

Selain pembatasan jumlah, kapal yang diizinkan melintas juga diwajibkan melalui jalur khusus serta mendapatkan izin resmi dari otoritas Iran.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua pekan dengan Iran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kemudian menyatakan Selat Hormuz kembali dibuka, yang merupakan jalur penting bagi sekitar 20 persen distribusi minyak, produk petroleum, dan gas alam cair (LNG) dunia.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan negosiasi antara kedua negara masih menemui jalan buntu. Wakil Presiden AS J.D. Vance menyatakan tidak ada kesepakatan yang tercapai setelah memimpin delegasi AS dalam pembicaraan langsung dengan pihak Iran.

Perundingan berlanjut hingga hari kedua pada Minggu (12/4) di tengah kondisi gencatan senjata yang dinilai semakin rapuh. Pihak Iran diwakili oleh Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Qalibaf.

Media Iran melaporkan perbedaan pandangan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu hambatan utama. Sementara itu, CNN mengutip pejabat Iran yang menyebut status selat tersebut tidak akan berubah tanpa adanya “kerangka bersama” antara Iran dan AS untuk melanjutkan negosiasi.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi