Istanbul, Aktual.news – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi mengatakan Iran dan Oman akan mengelola Selat Hormuz secara bersama-sama sesuai dengan hukum internasional.
Dalam pernyataan yang disiarkan stasiun televisi Pemerintah Iran IRIB, dengan mengutip stasiun televisi Lebanon Al Mayadeen, Kamis (4/6), Menlu Araghchi mengatakan Iran dan Oman—sebagai dua negara yang berbatasan dengan jalur perairan strategis tersebut—memiliki “hak alami” untuk berkoordinasi dan mengambil keputusan terkait pengelolaan Selat Hormuz.
Dia mengatakan Iran akan bertukar pandangan dengan negara-negara Teluk mengenai perkembangan terkait Selat Hormuz. Namun, Araghchi menekankan keputusan mengenai pengelolaan selat itu pada akhirnya akan dilakukan oleh Iran dan Oman.
Araghchi mengatakan upaya kedua belah pihak bertujuan untuk memastikan jalur aman bagi semua kapal melalui selat tersebut sesuai dengan hukum internasional.
Dalam siaran tersebut, Araghchi mengatakan komunikasi dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei terus berlangsung dan arahan-arahan Khamenei diterima dan dilaksanakan dengan tepat pada waktunya.
Dia juga menambahkan terdapat konsensus nasional yang luas seputar kepemimpinan Iran dan bahwa urusan negara Iran berjalan ke arah yang sangat baik.
Nasionalisasi Selat Hormuz
Adapun Juru bicara presidium parlemen Iran, Abbas Goudarzi, mengungkapkan pihaknya berencana “menasionalisasi” Selat Hormuz.
Goudarzi menyebut Iran hendak menasionalisasi perairan tersebut seperti yang dilakukan pada industri minyak negara tersebut.
Dia menyatakan nasionalisasi industri minyak Iran menjadi langkah penting pada masa lalu, yakni pada dekade 1950-an atau sebelum Revolusi Islam Iran.
“Dengan nasionalisasi sektor minyak, sejarah telah membuktikan betapa pentingnya kebijakan tersebut waktu itu,” kata Goudari, dikutip media Iran, ISNA, seperti dilansir TASS, Selasa (2/6/2026).
Selat Hormuz adalah jalur pelayaran penting dunia dan saat ini termasuk dalam perairan teritorial Iran serta Oman.
Sejak AS-Israel memulai perang pada 28 Februari 2026 lalu, Iran menutup Selat Hormuz. Sebagai balasan, AS menerapkan blokade atas pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April 2026.
AS berulang kali menuntut Iran segera membuka Selat Hormuz dalam perundingan. Washington pun menolak langkah Iran menerapkan pungutan bagi kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
IRGC: Izin Pelayaran Dibuka
Sementara itu, Media Iran melaporkan pada hari Selasa, 2 Juni 2026, bahwa sistem permohonan izin pelayaran kapal melalui Selat Hormuz kini sepenuhnya terbuka.
Meski belum memberikan penjelasan rinci, menurut media tersebut, hal ini memungkinkan pemilik kapal dan kapten kapal dari seluruh negara bisa memajukan atau mengajukan permohonan kapan saja.
Dikutip dari program Headline News Metro TV, Rabu, 3 Juni 2026, permohonan dapat diajukan melalui sistem elektronik yang akan mengeluarkan izin pelayaran setelah disetujui oleh pemerintah Iran.
Pada hari yang sama, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan bahwa 24 kapal telah berlayar melalui selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, setelah berkoordinasi dengan pasukan Iran.
Kapal-kapal tersebut berlayar melalui jalur laut di bawah perlindungan pasukan angkatan laut IRGC, setelah mendapatkan izin terlebih dahulu.
Hal ini menjadi harapan baru bagi pengiriman bahan bakar energi, seperti minyak mentah maupun gas cair, dan juga LNG.
Di pasar dunia, harga minyak mentah pun sempat turun mendekati level USD90 per barel, dari sebelumnya berada di kisaran USD96 per barel pada akhir Mei lalu.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi












