Jakarta, Aktual.news — Isu reshuffle Kabinet Merah Putih kembali menguat di tengah tekanan energi global dan meningkatnya dinamika oposisi di ruang publik. Pengamat menilai momentum tersebut bukan hal yang muncul tiba-tiba, melainkan bagian dari rencana lama yang kini menemukan konteksnya.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, mengatakan wacana reshuffle sejatinya telah lama berkembang, namun saat ini menguat seiring tekanan eksternal dan dinamika internal yang semakin kompleks.
“Reshuffle ini bukan muncul mendadak. Momentumnya saja yang sekarang terasa lebih kuat karena bertemu dengan tekanan energi global dan mulai menguatnya narasi oposisi di ruang publik,” ujar Arifki di Jakarta, Kamis (09/04/2026).
Ia menjelaskan, kondisi global yang berdampak pada sektor energi dan ekonomi menuntut pemerintah memastikan kesiapan kabinet dalam merespons situasi secara cepat dan tepat.
“Dalam situasi seperti ini, Presiden Prabowo Subianto tentu akan lebih berhati-hati. Yang dibutuhkan bukan sekadar figur politik, tetapi menteri yang benar-benar ahli dan mampu membantu memperkuat kinerja pemerintah,” jelasnya.
Di sisi lain, Arifki menilai dinamika oposisi mulai membentuk persepsi publik yang tidak bisa diabaikan. Narasi kritik, meski belum sepenuhnya terinstitusionalisasi dalam sikap partai politik, dinilai semakin berkembang dan menguji respons pemerintah.
“Tekanan dari luar dan dalam ini bertemu dalam satu momentum. Karena itu, setiap langkah pemerintah, termasuk reshuffle, akan dibaca lebih luas oleh publik,” katanya.
Menurutnya, reshuffle bukan sekadar pergantian posisi, melainkan bagian dari upaya menjaga efektivitas kinerja pemerintahan agar tetap dirasakan masyarakat.
“Tujuan akhirnya tetap sama, bagaimana pemerintah bisa bekerja lebih efektif dan masyarakat merasakan dampaknya. Di situ kepuasan publik menjadi ukuran,” ujarnya.
Ia menambahkan, reshuffle harus dihitung secara matang agar mampu menjawab kebutuhan internal sekaligus ekspektasi publik.
“Kalau momentum ini dikelola dengan tepat, reshuffle bisa menjadi penguatan. Tapi kalau tidak, justru bisa membuka ruang tafsir yang lebih luas dan tidak memberikan efek positif ke pemerintah,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi

















