Oleh: Muhammad Misbachul Munir*

DI TENGAH hiruk pikuk Ibu Kota Jakarta, dan problematik kehidupan yang kompleks mulai dari ekonomi, politik, sosial dan lain sebagainya, sudah semestinya kita kembali menghirup ‘oksigen’ dari majelis-majelis keilmuan yang membawa kepada ketenangan.

Salah satu penyebab hadirnya ketenangan di dalam jiwa, dan diri kita adalah dengan meningkatkan kesadaran spiritualitas kita melalui cabang keilmuan yang dikenal dengan istilah Tasawwuf.

Berbicara tentang tasawwuf, tentunya kita tidak mungkin lepas dari pembahasan mengenai pemuka atau ulamā tasawwuf itu sendiri. Salah satu pemuka tasawwuf yang tidak diragukan kapabilitas dan kredibilitasnya adalah Sulthan al-Auliyā al-Syaikh ‘Abd al-Qādir al-Jailānī al-Hasanī al-Husainī -Semoga Allāh senantiasa merahmati beliau-.

Di Indonesia, banyak personal ataupun kelompok yang menisbahkan atau mengklaim dirinya sebagai pengikut dari beliau. Dan, banyak dari mereka yang mengadakan pembacaan Manaqib, haul tuan syaikh, dan pemberian ijazah wirid tuan syaikh. Bahkan, ada yang menjadikan hal tersebut sebagai wasilah untuk mendapatkan kekeramatan tertentu.

Di tengah kondisi tersebut, Zawiyah Ar-Raudhah -sebagai sentral penyebaran keilmuan thariqah al-Syādziliyah al-Qādiriyah- yang berada dalam bimbingan al-Syaikh KH. Muhammad Dāniāl Nafīs, hadir sebagai wajah yang memperkenalkan dan menjaga tradisi keilmuan Sulthan al-Auliyā.

Hal ini terjadi karena Zāwiyah al-Raudhah melihat adanya ketimpangan dalam segi khidmah penyebaran ajaran Shulthan al-Auliyā yang lebih cenderung mengesampingkan nilai-nilai keilmuan beliau.

Padahal, jika mempelajari biografi beliau, kita akan menemukan bagaimana kapabilitas dan kapasitas beliau dalam hal keilmuan dhohir seperti fiqh, hadist, aqidah, dan bidang keilmuan yang lain.

Bahkan, beliau sendiri dikenal dengan Syaikh al-Sādati al-Syāfiiyah wal al-Hanābilah bi Bagdād pada masanya. Hal ini disampaikan oleh al-Imām al-Nawawī yang termaktub dalam Kitab Misbah al-Ashfiyā fi Manaqibi Sulthan al-Auliyā karya Prof. Dr. al-Syaikh Muhammad Fādhil al-Jailānī.

Kiat dan giat Zāwiyah al-Raudhah dalam berkomitmen untuk menjaga dan menyebarkan tradisi keilmuan beliau dengan cara mengkaji kitab-kitab karangan beliau yang diampu langsung oleh Khādim Zāwiyah al-Raudhah, atau membuat kajian bersama Prof. Dr. Muhammad Fādhil al-Jailānī sebagai dewan penasihat Zāwiyah al-Raudhah.

Di antara kitab beliau yang diajarkan di Zāwiyah al-Raudhah adalah kitab tafsir al-Jailānī -diampu oleh Khādim Zāwiyah al-Raudhah- melalui Majelis Tafsir Al Quran Arraudhah.

Kajian kitab yang rutin digelar setiap hari Sabtu pagi ini membawa nuansa baru dalam bidang tafsir, dan membawa nafas baru dalam penyebaran keilmuan Shulthan al-Auliyā.

Semoga dengan adanya kajian-kajian keilmuan yang diprakarsai oleh Zāwiyah al-Raudhah ini bisa membuka mata intelektualitas dan spiritualitas pecinta Shulthan al-Auliyā al-Syaikh ‘Abd al-Qādir al-Jailānī, Qs. Sekaligus, memberikan inside baru bagi masyarakat umum dalam mengenal tasawwuf dan ulamā tasawwuf itu sendiri. Allāhu wa Rasūluhu a’lam.

*Pengajar di Pondok Pesantren Raudhatul Ihsan, Cigombong, Bogor.