Jakarta, Aktual.news – Presiden Prabowo Subianto memanggil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan dan ekonom senior sekaligus eks menteri keuangan Chatib Basri ke Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Selasa (9/6/2026) sore.
Luhut dan Chatib tiba bersamaan sekitar pukul 15.30 WIB di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Walaupun demikian, Luhut dan Chatib memilih irit bicara saat ditanya agenda pertemuannya nanti dengan Presiden.
Terlepas dari itu, Chatib membenarkan dirinya menyambangi Istana untuk memenuhi panggilan Presiden.
Sebelumnya, ramai diberitakan Purbaya Yudhi Sadewa akan digeser dari posisi sebagai Menteri Keuangan. Purbaya diisukan akan digantikan Chatib Basri. Sedangkan Purbaya akan menempati posisi baru sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Isu pergantian Menteri Keuangan mencuat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.
Chatib: Jadi Menkeu Itu Sangat Gampang
Dalam forum Grab Business Forum 2026 di kawasan Sudirman, Jakarta, Selasa (9/6), Chatib mengatakan tugas Menteri Keuangan pada dasarnya hanya berkutat pada tiga instrumen utama dalam mengelola anggaran negara.
“Sebetulnya tugas dari Menteri Keuangan itu sangat gampang. Dia hanya punya opsi tiga hal. Naikkan, potong, pinjam. Itu hanya tiga itu,” kata Chatib.
Ia menjelaskan pemerintah pada dasarnya hanya bisa meningkatkan penerimaan negara, memangkas pengeluaran, atau menutup kebutuhan pembiayaan melalui utang.
“Kalau Anda tidak bisa naikkan, maka Anda harus potong. Kalau Anda tidak bisa potong, Anda harus pinjam. As simple as that,” ujarnya.
Namun, Chatib menilai menaikkan pajak bukan pilihan realistis dalam kondisi ekonomi saat ini karena berpotensi semakin menekan aktivitas usaha dan daya beli masyarakat.
“Masa di dalam situasi ini tax revenue, tax-nya mesti dinaikkan? Nggak mungkin juga,” katanya.
Di sisi lain, opsi menambah utang juga dinilai tidak ideal lantaran biaya pinjaman sedang mahal seiring tingginya suku bunga global.
“Siapa yang mau pinjam uang sekarang, cost-nya akan jadi sangat mahal,” ucapnya.
Karena itu, ia menilai langkah yang paling memungkinkan adalah melakukan rasionalisasi belanja negara secara selektif untuk menjaga kredibilitas fiskal.
“Maka opsi yang paling mungkin itu adalah opsi tiga. Cut the spending selectively,” pungkasnya.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi












