Jakarta, Aktual.news – Konsultan dan Perencana Keuangan Elvi Diana menyarankan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyampaikan penjelasan yang lebih rinci dan transparan mengenai faktor-faktor yang memicu pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Elvi menilai keterbukaan informasi diperlukan untuk memberikan kepastian kepada investor dan pelaku pasar di tengah tekanan yang terjadi di pasar modal.
Ia berpendapat penjelasan mengenai kombinasi faktor domestik dan global yang disampaikan regulator perlu dilengkapi dengan uraian yang lebih spesifik agar dapat dipahami secara menyeluruh oleh publik.
Elvi menyarankan agar pemerintah dan regulator menjelaskan secara terbuka berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar, termasuk kondisi ekonomi domestik, kebijakan fiskal dan moneter, sentimen investasi, hingga perkembangan situasi geopolitik global.
Ia berpandangan bahwa penyampaian informasi yang lebih terukur dapat membantu menjaga kepercayaan investor sekaligus mengurangi ketidakpastian di pasar.
Selain mendorong peningkatan transparansi, Elvi juga merekomendasikan pemerintah untuk menyiapkan langkah-langkah kebijakan yang dapat mendukung stabilitas pasar keuangan dan memperkuat iklim investasi.
Menurutnya, respons yang cepat dan terukur dapat membantu memulihkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
Ia juga menyarankan Komisi XI DPR RI untuk terus menjalankan fungsi pengawasan terhadap kebijakan dan langkah yang ditempuh pemerintah maupun regulator dalam merespons dinamika pasar modal.
Elvi menilai kepercayaan investor merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Oleh karena itu, upaya memperkuat transparansi, akuntabilitas, dan kepastian kebijakan dinilai dapat menjadi bagian dari strategi untuk mendukung pemulihan sentimen pasar.
“Kepercayaan investor adalah aset yang sangat berharga. Ketika kepercayaan itu terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasar modal, tetapi juga oleh perekonomian nasional secara keseluruhan,” tuturnya, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (6/6/2026).
Sentimen Negatif terhadap Kondisi Ekonomi Indonesia
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh persepsi atau sentimen negatif terhadap kondisi perekonomian nasional yang tidak sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Menurut Purbaya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih terjaga, terlihat dari kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang tetap kuat, sementara aktivitas ekonomi di berbagai daerah masih menunjukkan pertumbuhan yang positif.
“Kendala utamanya adalah persepsi negatif terhadap ekonomi kita, yang nggak terlalu benar. Karena APBN kita bagus, ekonominya tumbuh cukup bagus. Sampai sekarang kalau kita kemana-mana semuanya ekonomi activity meningkat. Tapi ketika persepsi dibilang kita mau hancur, segala macam, sebagian orang terpengaruh,” ujar Purbaya di Jakarta, Sabtu (6/6).
Purbaya menegaskan, pemerintah bersama Bank Indonesia akan memperkuat koordinasi untuk menghilangkan persepsi negatif yang berkembang di pasar dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
“Itu yang akan kita hilangkan dengan kerja sama yang lebih erat dengan bank sentral. Sebelumnya juga erat, cuman kita lebih eratin lagi,” katanya.
Diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi 38 persen dari posisi puncaknya. Bahkan, pelemahan indeks saat ini lebih dalam dibandingkan saat pandemi Covid-19. IHSG mengalami tekanan jual besar-besaran saat penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026).
Indeks anjlok 4,20 persen atau 245,02 poin ke level 5.594,76. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor karena terjadi di tengah derasnya arus keluar modal asing, pelemahan rupiah, hingga meningkatnya perhatian lembaga pemeringkat global terhadap kondisi fiskal Indonesia.
IHSG mengalami pelemahan tajam secara beruntun berlangsung sejak akhir Februari 2026, dan mencapai level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan ini dinilai berbagai kalangan salah satunya didorong oleh ketidakpastian pasar akibat pembentukan dan kebijakan PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
Pasar bereaksi negatif setelah pemerintah mengumumkan Danantara sebagai badan usaha tunggal untuk mengekspor komoditas strategis. Investor panik karena belum mengetahui secara jelas manfaat dan teknis dari operasional BUMN khusus ekspor tersebut.
Ketidakpastian aturan ini memicu aksi jual massal (panic selling) dari pelaku pasar dan investor asing yang menekan saham-saham berkapitalisasi besar (big caps).
Akibat sentimen tersebut, IHSG merosot drastis hingga kembali ke kisaran level 6.100-an, 6.090-an. Bahkan, akhir pekan kemarin menyentuh ke level 5.594,76.
Artikel ini ditulis oleh:
Eroby Jawi Fahmi












