Kapal-kapal dari "Global Sumud Flotilla 2026 Spring Mission," yang bertujuan untuk menembus blokade Israel di Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan, berangkat dari marina di Augusta di pulau Sisilia, Italia, pada 26 April 2026. Armada yang terdiri dari 65 kapal tersebut berlayar ke Laut Mediterania secara berurutan pada sore hari sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan, dengan banyak bendera Palestina terlihat berkibar di tiang-tiang kapal. (ANTARA/Barış Seçkin - Anadolu Agency/pri.) (ANTARA/Barış Seçkin - Anadolu Agency/pri.)
Kapal-kapal dari "Global Sumud Flotilla 2026 Spring Mission," yang bertujuan untuk menembus blokade Israel di Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan, berangkat dari marina di Augusta di pulau Sisilia, Italia, pada 26 April 2026. Armada yang terdiri dari 65 kapal tersebut berlayar ke Laut Mediterania secara berurutan pada sore hari sesuai dengan urutan yang telah ditetapkan, dengan banyak bendera Palestina terlihat berkibar di tiang-tiang kapal. (ANTARA/Barış Seçkin - Anadolu Agency/pri.) (ANTARA/Barış Seçkin - Anadolu Agency/pri.)

Moskow, Aktual.news – Kantor Kejaksaan Anti-Terorisme Nasional (PNAT) Prancis mengumumkan dibukanya penyelidikan terhadap kejahatan perang dan penyiksaan yang dilakukan Israel terhadap aktivis Global Sumud Flotilla (GSF), di mana terdapat warga negara Prancis, menurut laporan BFMTV, Jumat (5/6).

Konvoi pelayaran yang membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza tersebut berlayar dari Barcelona, Spanyol, pada 15 April.

Namun, pada 18 Mei, GSF melaporkan flotilla tersebut telah dikepung dan dicegat secara paksa oleh kapal perang zionis Israel di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari pesisir Gaza. Semua peserta flotilla ditangkap, meski kemudian dilepas dan dideportasi dari Israel.

Perdana Menteri (PM) Prancis Sebastien Lecornu pada Selasa (26/5) mengatakan pemerintahannya akan membawa isu tersebut kepada pengadilan.

“Selain kecaman, yang memang diperlukan dari sudut pandang politik, kami harus bertindak karena ada korban dari WN Prancis. Kami tak dapat mengesampingkan untuk melaporkan semua tindakan yang terekam dalam video tersebut kepada otoritas hukum kami. Tidak ada siapa pun yang boleh menyerang rakyat Prancis dengan impunitas dan tanpa respons apa pun,” kata Lecornu.

Kemudian, pada Jumat (29/5), Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Jean-Noel Barrot memastikan Pemerintah Prancis telah mengajukan laporan ke kantor kejaksaan Paris setelah laporan penyiksaan aktivis Prancis oleh Israel mencuat.

Adapun pejabat keamanan nasional rezim zionis Israel, Itamar Ben-Gvir, menyiarkan sebuah video pada 20 Mei yang menunjukkan pasukan zionis memaksa seluruh aktivis yang mereka tangkap bersujud dalam posisi terikat.

Ben-Gvir sendiri, dalam video tersebut, terlihat membuat pernyataan provokatif tentang para peserta pelayaran.

GSF kemudian melaporkan kasus 30 patah tulang yang diderita para peserta pelayaran, di samping menuding pasukan zionis melakukan pelecehan seksual terhadap peserta lainnya.

Menlu Barrot pun memastikan bahwa Itamar Ben-Gvir telah dilarang memasuki wilayah Prancis.

Stasiun radio FranceInfo sebelumnya melaporkan peserta GSF akan mengajukan gugatan melawan Israel di sejumlah negara usai menjadi korban kekerasan setelah konvoi pelayaran mereka dicegat pasukan Zionis.

Pada 15 April, flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza tersebut berlayar dari Barcelona. Tetapi pada 18 Mei, pelayaran tersebut dikepung dan, menurut GSF, dicegat dengan tindak kekerasan oleh kapal militer Israel di perairan internasional, sekira 250 mil laut dari pesisir Gaza.

Semua peserta flotilla kemudian ditahan sebelum kemudian dideportasi dari Israel.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi