Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad. ANTARA/HO-Kemenag.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad. ANTARA/HO-Kemenag.

Jakarta, Aktual.news – Kementerian Agama tengah menyusun standardisasi kosa isyarat keagamaan, utamanya mengenai fikih dan teologi Islam, bagi kelompok disabilitas sensorik rungu wicara (Tuli) di Indonesia.

Program afirmatif yang dinamakan Kosa Isyarat Keislaman Indonesia (KOSMIN) ini diluncurkan untuk memetakan serta menyatukan bahasa isyarat istilah-istilah keislaman yang selama ini belum memiliki standar baku.

“Istilah-istilah yang terkait dengan keislaman itu cukup banyak, tetapi belum ada standar yang menyatukan teman-teman Tuli ketika mengungkapkan pikiran atau menyampaikan penjelasan,” ujar Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad dikonfirmasi dari Jakarta, Rabu (17/6).

Abu mengatakan penyusunan kosa istilah saat Muharram tersebut semacam kado inklusif dari negara untuk memberikan kemudahan bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali.

Menurut dia, penyusunan KOSMIN dilatarbelakangi oleh banyak istilah keagamaan, baik di ranah teologi maupun fikih ibadah, yang selama ini membingungkan sahabat Tuli karena belum ada kesepakatan terkait kosa isyarat yang digunakan.

​”Konon, konsep mendasar tentang surga dan neraka saja belum ada kesepakatan isyarat bakunya. Termasuk istilah fikih harian seperti haid, nifas, istihadhah, hingga mimpi basah. Oleh karena itu, Kemenag hadir untuk memberikan capaian luar biasa berupa standardisasi ini,” katanya.

​Abu Rokhmad menjelaskan KOSMIN merupakan kelanjutan dari program inklusi Kemenag. Kementerian Agama telah menuntaskan penyusunan Master Al Quran Isyarat, lengkap beserta komponen tafsirnya.

Tahun ini, Kemenag akan menyelesaikan standardisasi kosa isyarat keislaman agar literasi keagamaan bagi sahabat Tuli dapat paripurna.

Di samping itu, dalam peringatan Muharram 1448 Hijriah, Kemenag juga mengajak generasi muda, khususnya Gen Z Muslim, untuk mengisi hari-hari ke depan dengan aksi nyata yang positif dan inklusif demi memajukan Indonesia.

Generasi muda diharapkan mampu menjadi jembatan komunikasi dan penggerak di masyarakat agar tidak ada lagi dinding pemisah bagi kelompok difabel dalam mengakses pendidikan agama.

​”Kami mengajak, terutama bagi generasi muda, Gen Z, untuk mengisi hari ini hingga hari-hari ke depan di tahun baru ini dengan berbagai macam kegiatan yang positif,” kata Abu.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain