Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto. Aktual/HO

Jakarta, Aktual.news — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi membuka kembali program Beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (BPDDI) Tahun 2026 guna mendorong peningkatan kualifikasi akademik dosen di Tanah Air.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan dosen merupakan aset utama pendidikan tinggi yang berperan penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, dan inovasi nasional.

“Dosen adalah aset terbesar dari pendidikan tinggi dan tentu kita berharap dosen tidak perlu menunggu lama bisa langsung segera kuliah,” ujar Brian dalam keterangan di Jakarta, Minggu (21/6/2026).

Ia menyebutkan, saat ini berbagai perguruan tinggi di Indonesia telah memiliki program doktor dengan fasilitas yang semakin baik dan lengkap. Karena itu, pemerintah mendorong para dosen untuk memanfaatkan peluang beasiswa tersebut guna meningkatkan kompetensi akademik sekaligus memperkuat kapasitas riset nasional.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi (PPAPT) Kemdiktisaintek Sandro Mihradi mengungkapkan program BPDDI yang dimulai sejak 2025 telah memberikan manfaat kepada 1.269 dosen di seluruh Indonesia.

Menurutnya, BPDDI menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan kualifikasi akademik dosen serta memperkuat sumber daya manusia pendidikan tinggi. Program ini juga bertujuan menambah jumlah dosen bergelar doktor sebagai fondasi penguatan pendidikan tinggi nasional.

“Harapannya ini dapat memberikan dampak untuk meningkatkan kapasitas riset, teknologi, dan sains serta mendorong inovasi dan hilirisasi,” kata Sandro.

Pada 2026, BPDDI kembali dibuka bagi dosen tetap di perguruan tinggi di bawah koordinasi Kemdiktisaintek yang akan melanjutkan studi doktor. Program ini didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan dirancang untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta daya saing perguruan tinggi Indonesia.

BPDDI 2026 menawarkan dua skema, yakni skema reguler untuk studi doktor di dalam negeri bagi mahasiswa baru maupun yang sedang menempuh studi maksimal semester tiga, serta skema joint degree atau dual degree melalui kerja sama perguruan tinggi dalam dan luar negeri dengan durasi pendanaan maksimal empat tahun.

Selain biaya pendidikan, program ini juga mencakup dukungan pembiayaan komprehensif seperti biaya pendaftaran, bantuan penelitian atau disertasi, insentif publikasi jurnal internasional, biaya hidup bulanan, transportasi, asuransi kesehatan, hingga dana darurat. Kemdiktisaintek juga menyediakan dukungan tambahan bagi dosen penyandang disabilitas, termasuk pembiayaan pendamping selama masa studi.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi