Jakarta, Aktual.news — Wakil Ketua Komisi X DPR RI Mufidah Kurniasih mengingatkan bahwa kesejahteraan guru dan dosen menjadi kunci utama dalam mewujudkan generasi emas Indonesia pada 2045. Ia menilai, tanpa dukungan yang memadai terhadap tenaga pendidik, transformasi pendidikan nasional akan sulit berjalan optimal.
Mufidah menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap kualitas pengajaran, termasuk pemerataan sarana dan prasarana pendidikan, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Selain itu, percepatan digitalisasi pendidikan juga harus menjadi prioritas dalam mendukung sistem pembelajaran yang lebih modern dan adaptif.
“Digitalisasi pendidikan dan perbaikan kualitas pengajaran, khususnya di daerah 3T, harus diperhatikan. Perhatian kepada pengajar menjadi pilar utama keberhasilan transformasi pendidikan,” ujarnya, dikutip dari laman DPR RI, Sabtu (13/6/2026).
Dalam forum Dialektika Demokrasi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, ia menjelaskan bahwa digitalisasi pembelajaran perlu dijalankan dalam tiga pilar utama, yakni inklusif, adaptif, dan partisipatif. Inklusif berarti akses pendidikan harus merata bagi seluruh peserta didik di Indonesia. Adaptif menyesuaikan sistem pembelajaran dengan kebutuhan zaman, sedangkan partisipatif melibatkan seluruh pemangku kepentingan.
Ia juga mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) harus diimbangi dengan penguatan pendidikan karakter. Menurutnya, tanpa landasan etika yang tepat, penggunaan teknologi dapat berdampak pada menurunnya kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Di sisi lain, Mufidah mengapresiasi adanya perubahan arah kebijakan pendidikan nasional yang dinilai semakin progresif, khususnya dalam peningkatan sarana dan prasarana sekolah. Meski demikian, ia menilai tantangan implementasi di lapangan masih cukup besar.
Karena itu, Komisi X DPR RI mendorong kementerian terkait, termasuk Diktisaintek, Dikdasmen, dan BRIN, untuk bekerja lebih maksimal dalam mempercepat transformasi pendidikan nasional serta memastikan dukungan anggaran yang lebih optimal.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi












