Jakarta, Aktual.news – Presiden China Xi Jinping menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi global yang dinilainya semakin tidak stabil. Ia menyebut tatanan internasional saat ini tengah “runtuh ke dalam kekacauan”, di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Xi saat menerima kunjungan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez di Beijing, Selasa (14/4). Ini menjadi komentar publik pertama Xi terkait eskalasi konflik Iran sejak serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel lebih dari sebulan lalu.
“Tatanan internasional sedang runtuh ke dalam kekacauan,” tegas Xi. Pernyataan ini dinilai sebagai salah satu kritik paling keras dari Beijing terhadap sistem global yang selama ini dipimpin Barat. Dalam perspektif China, istilah “kekacauan” tidak hanya merujuk pada konflik fisik, tetapi juga mencerminkan kemerosotan moral dalam hubungan internasional.
Dalam pertemuan terpisah dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohammed, Xi menegaskan bahwa China akan terus memainkan “peran konstruktif” di Timur Tengah.
Beijing berupaya memposisikan diri sebagai kekuatan penyeimbang di tengah konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa serta mengganggu stabilitas energi global.
Xi juga mengajukan proposal empat poin untuk menjaga perdamaian kawasan, antara lain menekankan prinsip hidup berdampingan secara damai, penghormatan terhadap kedaulatan, supremasi hukum internasional, serta penguatan pembangunan dan keamanan.
Pertemuan antara Xi dan Sánchez merupakan yang keempat dalam tiga tahun terakhir, mencerminkan semakin eratnya hubungan kedua negara. Spanyol sendiri menjadi salah satu negara Eropa yang paling vokal mengkritik perang AS-Israel terhadap Iran, yang disebut Sánchez sebagai tindakan “ilegal”.
Menjelang pertemuan, Sánchez secara terbuka meminta China memanfaatkan pengaruh globalnya untuk membantu mengakhiri konflik di Iran dan Ukraina.
“Baik China maupun Spanyol adalah negara yang memegang prinsip dan integritas,” ujar Xi. Ia menekankan pentingnya peningkatan komunikasi dan kerja sama guna menghadapi ancaman “hukum rimba” dalam hubungan internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Sánchez menegaskan pentingnya kerja sama internasional untuk menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari konflik bersenjata hingga isu perdagangan dan lingkungan.
Ia juga mendorong penguatan hubungan antara China dan Uni Eropa, meski di tengah meningkatnya skeptisisme sejumlah negara Eropa terhadap Beijing.
Di sisi lain, situasi di Timur Tengah terus memanas. Serangan terhadap infrastruktur energi oleh Iran telah berdampak pada sejumlah negara, termasuk Uni Emirat Arab. Selain itu, kebijakan terbaru Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz semakin memperkeruh situasi.
Upaya diplomasi pun masih berlangsung. Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah mempertimbangkan putaran baru negosiasi setelah pertemuan sebelumnya tidak mencapai kesepakatan.
Dengan dinamika yang terus berkembang, pernyataan Xi menegaskan posisi China sebagai aktor global yang ingin memainkan peran lebih besar dalam menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.
Artikel ini ditulis oleh:
Tino Okt

















