Aktual/Ilustrasi: AI-ChatGPT

Agustus 2025 akan lama tinggal dalam ingatan bangsa ini.

Sore itu Jakarta dipenuhi asap, teriakan, dan suara sirene. Di tengah kekacauan yang membelah jalan raya, seorang pengemudi ojek online bernama Affan Kurniawan terjatuh dan tak pernah bangkit kembali.

Ia bukan pemimpin demonstrasi. Ia bukan tokoh politik. Ia bukan aktivis yang berpidato di atas mobil komando.

Ia hanya rakyat biasa yang sedang mencari nafkah. Namun kematiannya mengubah arah sejarah.

Video tubuh Affan yang tergeletak di jalan menyebar ke jutaan telepon genggam hanya dalam hitungan jam. Wajahnya muncul di grup WhatsApp keluarga, di TikTok anak sekolah, di Instagram para pekerja muda, dan di linimasa para aktivis.

Dalam waktu yang sangat singkat, seorang anak muda yang sebelumnya tak dikenal berubah menjadi simbol nasional.

Dari Aceh hingga Papua, kemarahan bergerak lebih cepat daripada berita televisi. Demonstrasi meledak di berbagai kota. Sebagian berlangsung damai. Sebagian berubah menjadi bentrokan.

Beberapa kantor pemerintah dibakar. Gedung DPRD di Makassar menjadi puing. Korban jiwa berjatuhan.

Banyak orang bertanya: mengapa kematian satu orang bisa mengguncang sebuah negara?

Pertanyaan itu membawa saya pada kebutuhan yang lebih besar.

Peristiwa Agustus 2025 bukan sekadar kerusuhan. Ia adalah gejala sosial yang membutuhkan teori sosial baru untuk menjelaskannya.

Saya tumbuh dalam dunia yang mempercayai kekuatan data.

Sejak puluhan tahun lalu saya membaca survei, mempelajari perilaku pemilih, mengamati naik turunnya kepercayaan publik kepada negara.

Saya menyaksikan jatuhnya Orde Baru. Saya melihat reformasi melahirkan harapan baru. Saya juga melihat bagaimana media sosial perlahan mengubah perilaku masyarakat secara radikal.

Ketika saya membaca laporan-laporan lapangan tentang kerusuhan Agustus 2025, saya merasakan sesuatu yang berbeda.

Banyak teori lama mampu menjelaskan sebagian fakta. Namun tidak ada satu pun yang mampu menjelaskan keseluruhan fenomena.

Saya melihat sesuatu yang baru sedang lahir. Saya melihat kelas sosial baru. Saya melihat cara baru manusia marah.

Selama dua abad terakhir, teori sosial lahir ketika dunia berubah lebih cepat daripada bahasa yang tersedia untuk menjelaskannya.

Marx membaca lahirnya pabrik. Durkheim membaca lahirnya masyarakat modern. Kini kita hidup dalam dunia yang dikendalikan algoritma, namun masih memakai banyak konsep yang dilahirkan sebelum internet ditemukan.

Mungkin bukan masyarakatnya yang gagal dipahami. Mungkin teorinya yang sudah terlambat.

Saya melihat algoritma mengambil peran yang sebelumnya dimainkan oleh organisasi politik. Saya melihat notifikasi menggantikan pamflet revolusi.

Dan saya melihat bagaimana satu video berdurasi pendek dapat melakukan pekerjaan yang dulu membutuhkan bertahun-tahun organisasi gerakan sosial.

Karena itulah saya merasa perlu mengajukan sebuah teori sosial baru.

Sebelum mengajukan teori baru, kita perlu memahami tiga teori besar yang selama ini menjadi fondasi ilmu sosial.

Teori pertama adalah Relative Deprivation dari Ted Robert Gurr.

Dalam buku Why Men Rebel, Gurr menjelaskan bahwa pemberontakan tidak lahir dari kemiskinan semata. Pemberontakan lahir ketika terdapat jarak antara harapan dan kenyataan.

Ketika rakyat merasa berhak mendapatkan sesuatu namun gagal memperolehnya, muncullah frustrasi kolektif. Frustrasi ini dapat berubah menjadi kemarahan politik.

Teori ini sangat kuat menjelaskan Revolusi Prancis, Revolusi Rusia, hingga berbagai pemberontakan abad ke-20. Ia membantu kita memahami mengapa masyarakat yang tidak paling miskin justru sering menjadi pelaku protes paling besar.