Namun teori ini juga belum cukup.
Ia menjelaskan bagaimana protes menyebar.
Ia belum sepenuhnya menjelaskan mengapa sebagian masyarakat lebih mudah tersulut dibanding kelompok lain.
Ia menjelaskan jaringan komunikasi.
Ia belum memberi tempat yang memadai bagi kelas rentan digital sebagai aktor utama.
Ia menjelaskan bagaimana kemarahan bergerak.
Ia belum menjelaskan mengapa kemarahan itu begitu dalam.
Untuk memahami lebih jauh keterbatasan teori lama dan peluang teori baru, dua buku menjadi sangat penting.
Di titik ini, tampak bahwa kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar anomali, melainkan ujian serius bagi kelengkapan teori-teori klasik. Ia menyingkap celah yang selama ini tersembunyi dalam kacamata ilmu sosial modern.
Buku pertama adalah Why Men Rebel karya Ted Robert Gurr, diterbitkan Princeton University Press tahun 1970.
Buku ini memperkenalkan konsep Relative Deprivation yang kemudian menjadi salah satu teori paling berpengaruh dalam studi konflik sosial.
Gurr menunjukkan bahwa akar utama pemberontakan bukanlah kemiskinan absolut, melainkan perasaan ketidakadilan. Ketika harapan masyarakat meningkat lebih cepat daripada kemampuan sistem memenuhi harapan tersebut, lahirlah frustrasi kolektif.
Frustrasi itu kemudian berubah menjadi kemarahan politik. Gurr membedakan berbagai bentuk deprivasi dan menunjukkan bagaimana krisis ekonomi, ketimpangan sosial, serta kegagalan negara menciptakan kondisi yang subur bagi pemberontakan.
Kontribusi terbesar buku ini adalah menggeser fokus dari faktor material semata menuju persepsi psikologis masyarakat. Namun buku ini ditulis sebelum era internet. Ia tidak membahas peran media sosial, algoritma, atau kelas pekerja digital.
Karena itu, meskipun tetap relevan, teori ini membutuhkan perluasan agar mampu menjelaskan kerusuhan yang terjadi dalam masyarakat yang terkoneksi secara digital.
Buku kedua adalah Networks of Outrage and Hope karya Manuel Castells, diterbitkan Polity Press tahun 2012.
Castells menjelaskan bagaimana internet telah mengubah wajah gerakan sosial modern. Dalam dunia yang terhubung oleh jaringan digital, individu tidak lagi membutuhkan organisasi formal untuk bergerak bersama.
Kemarahan dapat menyebar melalui media sosial. Solidaritas dapat dibangun melalui komunikasi horizontal. Arab Spring, gerakan di Spanyol, Occupy Wall Street, dan berbagai mobilisasi digital lainnya menunjukkan bahwa kekuasaan komunikasi kini menjadi faktor politik yang sangat menentukan.
Castells memperlihatkan bahwa media sosial bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang baru bagi pembentukan identitas kolektif.
Namun fokus utama buku ini berada pada jaringan komunikasi. Ia tidak terlalu menekankan kondisi ekonomi, kerentanan kelas pekerja digital, ataupun proses distorsi yang dilakukan provokator.
Karena itu, teori jaringan Castells sangat kuat menjelaskan penyebaran protes, tetapi belum sepenuhnya menjelaskan mengapa protes tertentu berubah menjadi kerusuhan yang destruktif.
Dengan demikian, kita berhadapan dengan lanskap teori yang kaya tetapi terfragmentasi. Masing-masing menawarkan lensa tajam, namun belum membentuk panorama utuh tentang bagaimana ekonomi, teknologi, dan emosi berinteraksi dalam kerusuhan digital kontemporer.
Di titik inilah saya menemukan kekosongan yang menarik. Teori lama menjelaskan sebagian peristiwa dengan baik, tetapi tak satu pun mampu menjelaskan keseluruhan rantai sebab-akibat yang terjadi pada Agustus 2025.
Yang hilang bukan sekadar satu variabel. Yang hilang adalah cara melihat hubungan antara ekonomi, algoritma, emosi, dan legitimasi negara sebagai satu sistem yang saling memperkuat.
Dari refleksi terhadap berbagai teori itu, saya mengajukan sebuah teori sosial baru.
Saya menyebutnya: Teori Kerusuhan Era Digital. Teori ini dibangun di atas lima variabel utama.
Variabel pertama adalah Economic Grievance atau keresahan ekonomi.
Setiap kerusuhan membutuhkan bahan bakar. Bahan bakar itu adalah ketidakadilan ekonomi yang dirasakan rakyat. Harga pangan yang meningkat, lapangan kerja yang menyempit, daya beli yang menurun, dan masa depan yang terasa makin tidak pasti menciptakan akumulasi kemarahan.
Ekonomi bukan sekadar statistik. Ia adalah pengalaman sehari-hari di meja makan keluarga.
Variabel kedua adalah Digitally Vulnerable Class (DVC)
Inilah kontribusi paling orisinal teori ini. Saya menyebutnya kelas rentan digital. Mereka adalah ojol, kurir, freelancer, pekerja platform, content creator kecil, dan berbagai pekerja informal digital.
Mereka hidup dalam tiga kerentanan sekaligus: kerentanan ekonomi, kerentanan algoritmik, dan kerentanan harapan. Mereka menjadi subjek utama kerusuhan digital abad ke-21.
Variabel ketiga adalah Social Media Amplification.
Media sosial berfungsi sebagai pengganda emosi kolektif. Ia mengubah keluhan lokal menjadi kemarahan nasional. Ia mempercepat solidaritas sekaligus memperbesar kepanikan.
Di era digital, notifikasi dapat menggantikan pamflet revolusi.
Variabel keempat adalah Trigger and Provocation.
Kemarahan memerlukan simbol. Dalam kasus Agustus 2025, Affan Kurniawan menjadi simbol itu. Setelah pemicu muncul, provokator dan disinformasi dapat membelokkan protes damai menjadi kerusuhan.
Teori ini membedakan secara tegas antara akar masalah, pemicu, dan distorsi.
Variabel kelima adalah Broken Social Contract.
Kerusuhan meledak ketika rakyat merasa negara tidak lagi memenuhi janji dasarnya. Negara dianggap gagal melindungi, gagal memberi keadilan, gagal membuka peluang, dan gagal mendengar suara masyarakat. Pada titik itu, kontrak sosial kehilangan legitimasi moralnya.
Mengapa teori ini lebih kuat? Karena teori ini bersifat integratif.
Teori Relative Deprivation menjelaskan rasa tidak adil. Resource Mobilization menjelaskan organisasi. Networked Protest menjelaskan jaringan digital.
Masing-masing benar.
Namun masing-masing hanya menjelaskan sebagian gambar.
Teori Kerusuhan Era Digital menyatukan seluruh elemen penting dalam satu kerangka yang koheren.
Ia menjelaskan akar ekonomi yang menciptakan kemarahan. Ia mengidentifikasi lahirnya kelas rentan digital sebagai aktor baru sejarah.
Ia menjelaskan peran media sosial sebagai mesin amplifikasi emosi. Ia membedakan pemicu dari akar masalah.
Ia menjelaskan bagaimana provokasi mengubah arah gerakan. Dan yang terpenting, ia menawarkan dimensi normatif berupa kebutuhan membangun kembali kontrak sosial yang rusak.
Teori ini tidak hanya menjelaskan mengapa kerusuhan terjadi. Ia juga menjelaskan mengapa kerusuhan menyebar.











