Ia tidak hanya menjelaskan siapa yang marah. Ia juga menjelaskan mengapa mereka marah. Ia tidak hanya menjelaskan ledakan.
Ia juga menunjukkan jalan keluar. Dalam rumusan singkat:
Digital Riot = Economic Grievance + Digitally Vulnerable Class + Social Media Amplification + Trigger and Provocation + Broken Social Contract.
Kelima variabel ini tidak bekerja sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dalam sebuah siklus. Keresahan ekonomi menumpuk di kelas rentan digital, diperbesar algoritma, dipicu simbol tragis, lalu meledak ketika kepercayaan terhadap negara runtuh.
Sedikit perlu catatan. Ada pula isu lain memperkaya teori ini. Yaitu Digital State Counter-Response. Di era ini, negara tidak pasif; mereka menggunakan cyber troops dan sensor algoritma untuk meredam kerusuhan.
Sebuah teori sosial yang baik bukan hanya mampu menjelaskan masa lalu. Ia juga harus membantu membaca masa depan.
Jika lima variabel ini benar, maka kerusuhan digital bukanlah peristiwa yang unik bagi Indonesia. Ia berpotensi menjadi pola baru abad ke-21, muncul di berbagai negara ketika keresahan ekonomi bertemu kelas rentan digital dan dipercepat oleh mesin algoritma.
Kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar peristiwa politik. Ia adalah tanda zaman.
Ia memperlihatkan bahwa masyarakat telah berubah lebih cepat daripada teori yang selama ini kita gunakan untuk memahaminya.
Affan Kurniawan mungkin telah pergi. Namun kisahnya meninggalkan pertanyaan besar bagi ilmu sosial abad ke-21.
Bagaimana menjelaskan masyarakat yang hidup di bawah algoritma, bekerja tanpa kepastian, berkomunikasi melalui jaringan digital, dan bergerak dalam kecepatan yang belum pernah dikenal sebelumnya?
Teori Kerusuhan Era Digital adalah upaya menjawab pertanyaan itu.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak berubah ketika rakyat mulai marah. Sejarah berubah ketika kita akhirnya memahami mengapa mereka marah.
Catatan: Untuk Renungan
Setiap zaman melahirkan kelas sosial yang menjadi kendaraan utama perubahan sejarah.
Revolusi Industri melahirkan proletariat yang hidup di bawah mesin pabrik. Globalisasi melahirkan precariat yang hidup dalam ketidakpastian kerja.
Kini era algoritma melahirkan kelas baru yang berbeda. Jika proletariat adalah anak mesin industri, maka Digitally Vulnerable Class adalah anak algoritma.
Dari kelas sosial inilah lahir energi sosial yang menjelaskan banyak kerusuhan digital abad ke-21.
REFERENSI
1. Why Men Rebel. Ted Robert Gurr. Princeton University Press. 1970.
2. Networks of Outrage and Hope: Social Movements in the Internet Age. Manuel Castells. Polity Press. 2012.
3. Twitter and Tear Gas: The Power and Fragility of Networked Protest. Zeynep Tufekci. Yale University Press. 2017.
Oleh: Denny JA











