Petugas mengumpulkan sampah dari berbagai daerah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Randukuning Kabupaten Batang, Jawa Tengah Jumat (22/10/21). . ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putr (ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra)

Jakarta, Aktual.news — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menargetkan 70–80 persen permasalahan sampah nasional dapat diselesaikan pada 2029 melalui percepatan pembangunan fasilitas pengolahan dan penguatan partisipasi masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Apel Siaga Jaga Jakarta Pilah Sampah di Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Minggu (21/6/2026).

Zulkifli Hasan atau Zulhas menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat, khususnya dalam memilah sampah dari rumah.

“Jika pemerintah membangun teknologinya dan masyarakat membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah, kita bisa mewujudkan Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan produktif,” ujarnya.

Ia menjelaskan pemerintah tengah mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WtE), sebagai bagian dari reformasi pengelolaan sampah nasional.

Menurutnya, reformasi tersebut harus berjalan paralel antara pembangunan infrastruktur oleh pemerintah dan perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Zulhas juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dinilai menjadi pelopor dalam gerakan pemilahan sampah dari sumber dengan melibatkan masyarakat hingga tingkat RT dan RW.

Pemerintah melalui kementerian terkait saat ini mendorong percepatan pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di sekitar 30 lokasi prioritas, terutama di kawasan perkotaan dengan produksi sampah di atas 1.000 ton per hari.

Dalam waktu dekat, tiga proyek PSEL akan memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking), sementara 12 proyek lainnya tengah diproses oleh Danantara Indonesia untuk masuk tahap pemilihan mitra dengan target mulai beroperasi pada 2028.

Sebelumnya, Chief Executive Officer Danantara Investment Management (DIM) Pandu Sjahrir menilai penetapan proyek Waste to Energy sebagai Program Strategis Nasional (PSN) mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks.

Ia menyebut pengembangan PSEL menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA), sekaligus menekan dampak lingkungan seperti emisi gas metana.

“Penetapan PSN terhadap proyek ini menunjukkan komitmen pemerintah menghadirkan solusi terintegrasi dalam mengatasi krisis sampah,” ujar Pandu, Sabtu (20/6/2026).

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap pengelolaan sampah nasional dapat menjadi lebih modern, berkelanjutan, serta memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan sampah sebagai sumber energi.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi